TIPS BERSEPEDA : MENGHADAPI JALAN LICIN SAAT BERSEPEDA DI MEDAN OFFROAD

Mereka yang tinggal di daerah beriklim tropis, hamper separuhnya akan berhadapan dengan jalanan offroad yang licin. Dalam setahun kehidupan mereka, jalanan off road yang mereka lalui akan berubah menjadi licin selama enam bulan, dan baru akan kembali mengeras enam bulan berikutnya (tidak dapat dipastikan pada musim pancaroba). Lantaran itu, mengenal teknik-teknik dasar untuk menghadapi medan licin sebenarnya sangat penting artinya bagi para pesepeda.

Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi medan yang licin itu. Hal pertama yang palin penting diperhatikan adalah jenis dan bentuk  thread ban yang digunakan. Hal berikutnya adalah tekanan angin pada ban depan dan ban belakang, tekanan pada shock breaker depan dan belakang, serta ketinggian sadel.

Kenapa jenis dan bentuk thread ban sangat penting? Ban pada prinsipnya bisa dibedakan dari dua hal. Pertama, dari kekenyalannya. Ada ban jenis soft compound yang sangat empuk dan adapula ban hard compound yang sangat kenyal. Diantara keduanya tentu ada ban yang kekenyalannya sedang. Medan licin yang tanahnya liat, lebih baik dihadapi dengan ban soft compound. Sementara medan yang basah berair lebih enak dilibas dengan ban hard compound..

Yang kedua, dari thread alias batiknya. Ada banyak macam jenis thread ban karena para produsen memang membuat ban masing-masing dengan peruntukan tertentu. Ada ban yang khusus untuk menghadapi medan kering, medan licin, medan tanah berpasir, serta medan jalan halus.

Ban untuk medan licin bisa ditandai dengan adanya thread yang besar namun jarang-jarang. Setelah dipompa, ban untuk medan licin tak akan terlihat bulat karena ujungnya (bagian yang menempel tanah) sedikit rata. Thread besar itu merata dihampir semua permukaan, baik dibagian tengah maupun dibagian sampingnya.

Jika anda susah membedakanm carilah ban yang ada kata-kata “muddy” dikemasan atau bagian sisi ban. Kata itu mengindikasikan bahwa ban tersebut cocok dipakai untuk medan basah dan licin.

Penggunaan kekenyalan dan bentuk thread ban yang benar akan memberikan jaminan bahwa roda kita tidak akan selip secara berlebihan waktu menanjak, juga tidak terpeleset ke kiri dan ke kanan saat berada di medan turunan.

Satu lagi. Ukuran ban juga berpengaruh pada stabilitas kemudi dimedan licin. Makin besar ban akan makin stabil pengemudiannya. Ban yang berukuran 26 x 2.35, misalnya, lebih stabil dipakai dibandingkan dengan ban ukuran 26 x 1.90 atau 26 x 2.10

Tekanan Angin Ban

Pabrikan ban biasanya sudah memberikan petunjuk mengenai tekanan angin yang diperlukan. Angka yang ada dipetunjuk itu sesungguhnya bukanlah angka mati. Kita masih bisa melakukan sedikit penyesuaian. Jika badan kita memang tambun, kita bisa menambahkan sedikit tekanan. Jika kita termasuk kurus, kita bisa sedikit mengurangi tekanan itu. Ban biasanya mampu menerima tambahan atau pengurangan tekanan hingga 10 persen dari angka yang dianjurkan.

Bahkan, saat menghadapi medan licin, ada baiknya anda mengurangi tekanan angin. Turunkan  tekanan ban belakang hingga menjadi 90 persen dari yang seharusnya. Sedangkan untuk ban depan, pengurangan sebesar 5 persen sudah memadai.

Tujuan dari pengurangan ini tekanan ini sebenarnya hanya satu, yakni, agar traksi roda bisa optimal. Langkah ini tentu saja membawa resiko. Pengurangan tekanan angin ban akan membuat resistensi juga bertambah. Akibatnya,sepeda akan menjadi terasa lebih berat dikayuh.

Untuk itu, kita harus mengimbangi dengan perubahan setelan tekanan suspense, baik depan maupun belakang (jika ada). Setel suspense ke posisi yang paling keras. Damping-nya pun sebaiknya disetel ke posisi yang paling lambat. Dengan kata lain, suspense disetel ke posisi yang paling mendekati sepeda rigid. Jangan takut anda akan terguncang-guncang dengan setelan suspense seperti ini. Ban yang sudah dikurangi tekanan anginnya akan menjadi shock absorber yang efektif pula. Membiarkan shock breaker tetap empuk saat tekanan angin di ban sudah dikurangi akan membuat laju sepeda semakin berat.

Gearing

Di medan yang licin, ban berpotensi besar untuk selip. Akibat kehilangan traksi, roda belakang hanya berputar kencang tanpa memberikan dorongan kepada sepeda. Penggunaan gearing yang tepat akan mengurangi efek slip seperti ini. Ada satu patokan yang bisa digunakan. Yakni, begitu masuk ke wilayah yang sangat licin, turunkan gearing satu atau dua posisi yang lebih rendah alias lebih ringan. Penggunaan gearing yang tinggi akan membuat aliran tenaga dari kaki ke roda terlalu besar hingga berpotensi selip ikut membesar pula.

Tapi jika tak mau menurunkan gearing karena ingin terus mengebut, ada langkah lain yang bisa dicoba, yakni dengan memindahkan sebagian besar bobot tubuh ke atas roda belakang. Teknik ini harus dilakukan dengan baik karena jika terlalu banyak bobot yang dipindah ke belakang, justru roda depan yang berpeluang untuk selip.

Pengereman

Di medan yang licin, diperlukan teknik pengereman yang khusus pula. Jangan pernah memencet tuas rem terlalu lama. Memencet rem terlalu lama- (seperempat detik pun bisa menjadi terlalu lama) akan membuat roda locked, tak bisa berputar dan akhirnya akan tergelincir ke kiri dank e kanan. Hal kedua yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah, jangan pernah mengerem saat sepeda sedang dibelokkan. Tindakan ini bisa membuat sepeda sulit dikendalikan.

(Sumber : Majalah Cycling Edisi 33, Juni 2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: