HAKIKAT CINTA DALAM RASIONALITAS EKSISTENSI MANUSIA

Oleh Rega Felix

Kadang dalam kehidupan sehari-hari kita merasakan ada perasaan – perasaan kita yang tidak bisa kita rasionilkan seperti perihal “cinta” yang kadang orang mengatakan bahwa cinta itu kadang tak ada logika. Seolah-olah rasio terpisah dengan cinta atau bahkan suatu yang bertentangan, karena kadang ketika kita mencintai sesuatu kita dapat berbuat diluar batas nalar kita. Disini yang hendak dicari adalah apakah benar cinta itu adalah irasionil? Atau  apakah rasio dan cinta itu dapat bersatu? Bagaimana caranya?  Kita akan melakukan suatu dialektis antara rasio dan cinta untuk mendapat suatu sintesa yang mendamaikan keseluruhannya.

Rasio yang dalam hubungan ini berarti budi atau akal manusia. Bagi orang yang mengutamakan rasio dalam hidupnya dapatlah disebut sebagai rasionalisme. Rasionalisme adalah pendirian dalam cara berfikir yang menjunjung tinggi rasio atau akal dengan cara yang sedemikian rupa sehingga akal menjadi hakim yang mutlak atas segala sesuatu. Artinya, menurut pendirian ini segala sesuatu yang ada harus dapat dimengerti dengan jelas bahkan dengan terang benderang. Apabila sesuatu tidak dapat dijelaskan secara terang benderang maka hal itu harus dipungkiri atau ditiadakan. Aristoteles mengatakan bahwa rasio itu bersifat baka/abadi, hal ini menunjukkan tingginya posisi rasio dalam kehidupan manusia karena ia terletak kepada keabadian. Mengenai kedudukan rasio yang tinggi dalam kehidupan manusia ini juga dikatakan oleh filsuf-filsuf lain seperti ibnu rushd seorang filsuf Islam, Thomas Aquinas Filsuf skolastik, hingga memuncak kepada Descartes sang Bapak filsafat modern yang menancapkan gerakan rasionalisme yang kuat di Barat.

Seperti yang dikatakan aristoteles diatas bahwa rasio mempunyai kedudukan tertinggi dalam kehidupan manusia, ini berarti kemuliaan manusia terletak kepada rasio atau akal budinya. Karena rasio kita dapat menghantarkan kita kepada suatu hakikat tunggal yang mutlak yaitu Tuhan. Disinilah Aristoteles membuktikan keberadaan tuhan dengan rasionya hingga ia menyimpulkan rasio dalam posisi yang penting dalam kehidupan manusia. Hal ini pula yang dikatakan oleh ibnu rushd seorang filsuf Islam yang mempelajari pemikiran-pemikiran Aristoteles yang menyatakan pentingnya kedudukan rasio dalam kehidupan manusia karena dengan rasio kita dapat membuktikan keberadaan Tuhan yang satu. Dengan demikian maka rasio kita dapat menghantarkan kita kepada aspek transendental dari manusia. Dengan rasio kita dapat menemukan suatu kekuatan di luar manusia sebagai subjek penggerak dunia yang manusia tidak dapat mengatasinya, dengan rasio manusia mencapai suatu puncak batas yang absolut yaitu Tuhan yang merupakan jawaban ontologis dari pertanyaan darimanakah aku? Yaitu kita berasal dari Tuhan karena ia sebagai sebab pertama (prima cause) segala sesuatu atau penggerak alam semesta. dan Juga jawaban teleologis dari tujuan mau kemanakah aku? Yaitu karena kita berasal dari Tuhan maka kita pun akan kembali kepada Tuhan karena sebagai tujuan akhir (causa final) dari segala sesuatu.

rasio manusia menemukan hakikat dari segala sesuatu yang merupakan kekuasaan abadi yang berada di luar manusia itu sendiri. Karena kekuasaan tersebut adalah penggerak alam semesta yang manusia sendiri tidak dapat melakukannya dan bersifat abadi, muncullah pengakuan manusia terhadap sesuatu kekuasaan di luar dirinya . Tetapi rasio manusia tidak bisa untuk menembus kekuatan luar itu seutuhnya, karena kebenaran yang abadi/absolute itu seutuhnya hanya milik yang maha mutlak, rasio hanya mampu mengantarkan kepada pemahaman manusia atas keberadaannya yang terbatas. Akibat dari ini muncul suatu perasaan luar biasa manusia terhadap kekuasaan tersebut sebagai tempat akhir untuk berlindung bagi manusia. Hingga hanya kekuasaan abadi tersebutlah yang patut di cintai, disinilah muncul perasaan-perasaan manusia akan kerinduan terhadap kekuasaan abadi, disinilah timbul intuisi yang merupakan pemahaman holistic tentang hakikat dari segala sesuatu yaitu melalui perasaan tentang totalitas keberadaan manusia yang transenden, yang oleh Al Ghazali disebut sebagai Al Dzawq sebagai pencapaian hakikat.  perasaan tersebut dapatlah kita katakan cinta tuhan sebagai cinta sejati kemanusiaan.

Untuk mencapai cinta sejati ini bukanlah hal yang mudah, karena keterbatasan manusia dalam keberadaannya di dunia. Eksistensinya didunia yang menjasmani kadangkala menghalangi jalan menuju kesejatian manusia (kembali kepada Tuhan). Objek-objek di dunia ini kadangkala mengalihkan perhatiannya kepada yang maha mutlak. Substansi mutlak tidaklah dapat dicapai melalui pengamatan indera (jasmani) tetapi melalui rasio manusia untuk menemukan realitas metafisik, namun kita tidak dapat memungkiri bahwa kita sebagai manusia yang bereksistensi di dunia mempunyai jasmani merupakan pemberian dari Tuhan. Karena tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia maka jasmani ini juga merupakan anugerah dari Tuhan. Hingga menjadi pertanyaan jikalau jasmani ini merupakan penghalang ke kesejatian manusia bagaimana mungkin jasmani ini sebagai anugerah bisa mencapai ke kesejatian manusia?

Untuk menjawab ini kita harus berada pada kesadaran eksistensial, yaitu memahamai kondisi ber”ada”nya manusia di dunia ini, ada sebagai das sein yaitu ada bukan hanya sebagai esensi tetapi juga sebagai eksistensi. Kesadaran akan kesatuan jiwa dan raga yang tidak bisa terlepaskan didunia ini, bukan pemisahan seperti pandangan Plato maupun Descartes. Dengan demikian kita di dunia merupakan ruhani yang membadan. Apa yang harus kita sadari adalah bagaimana posisi kita di dunia. Dunia merupakan suatu dinamika dikarenakan posisinya yang berada di ruang dan waktu dia senantiasa berdinamika karena berjalan dengan segala gerak dan perubahan. Karena jiwa dan raga kita berasal dari Tuhan, maka sudah tentu eksistensi kita di dunia akan kembali ke Tuhan. Maka dari itu hakikat eksistensi kita di dunia adalah dinamika kepada Tuhan. Ini merupakan jawaban ontologis atas hakikat keberadaan manusia di dunia. Dengan adanya kesadaran eksistensi ini kita dapat menghayati dunia (lebenswelt) kita, lingkungan kita, dan sekitar kita yang selalu Nampak dalam kesadaran kita. Jadi kita berada didunia bukanlah suatu hal yang sia-sia bukan suatu penghalang untuk pencapaian hakikat kita, bukanlah suatu pemisahan kebenaran antar jiwa dan raga tetapi sebagai kesatuan yang bereksistensi. Eksistensi kita adalah bagaimana kita menghayati dunia kita untuk kembali ke tujuan akhir (Tuhan), dengan demikian kita dapat mengetahui bagaimana menghayati alam, orang lain, dan lingkungan sekitarnya. Termasuk bagaimana mungkin kita menghayati orang lain seperti hubungan seorang pria dengan wanita dalam kerangka perasaan/cinta yang bernafaskan ketuhanan.

Tentu kita sering mendengar orang yang menyatakan “Aku mencintaimu karena Allah SWT” (mungkin kita sering mendengar ini di kalangan orang-orang yang agamis). Kadang kita berfikir tentang hal ini merupakan kalimat yang tidak bermakna atau hanya metafora-metafora saja, orang yang suka melebih-lebihkan, karena orang memandang jika mencintai seseorang ya cintai saja orang itu tidak ada cinta kedua, cinta yang kedua itu hanyalah pelengkap saja. Padahal Pernyataan ini bukanlah suatu pernyataan sederhana dan mudah untuk dipahami. seandainya kita renungkan secara mendalam makna pernyataan “aku mencintaimu karena Allah SWT” secara rasionil merupakan pernyataan ontologis eksistensi manusia.

Dapat kita lihat unsur-unsur utama dalam kalimat pernyataan tersebut terdiri dari : “aku”, “cinta”, “kamu”, “Allah”. “aku” disini merupakan suatu pernyataan tentang subjek yang menyadari, aku sebagai diri yang menyadari akan diri sendiri, aku sebagai manusia yang sadar, bukan seperti hewan yang tidak menyadari dirinya sendiri karena hewan tidak pernah menyadari dirinya sebagai “aku”. Karena aku sadar sebagai “aku” maka aku menyadari duniaku dan kehendakku terhadap duniaku. Jadi disini adalah aku yang berdistansi, aku yang sadar akan kehendakku terhadap kealaman-ku. Akibat dari kesadaran aku yang berkehendak ini aku dapat berbuat, dapat bertindak sehingga aku dapat berbuat untuk menyatakan “cinta” yaitu suatu kesadaran untuk menyerahkan sebagian aku-nya ke objek yang dinyatakan, perbuatan “cinta” adalah untuk menyadari keber”ada”an “aku” bukanlah satu-satunya yang dapat bertahan dalam ke”aku”-annya, dalam artian menyadari ada sesuatu diluar aku yang patut aku agungkan,hargai,rasai. Cinta merupakan fenomena luar biasa manusia dimana manusia sebagai “aku” harus menyatakan ketidakberdayaannya “aku” kepada sesuatu di luar “aku”, sehingga membutuhkan sesuatu diluar “aku” tersebut. “cinta” yang dimaksud disini bukan cinta kepada diri sendiri, karena cinta kepada diri sendiri-pun akan menghasilkan cinta kepada sesuatu diluar diri itu sendiri. Hal ini bukan berarti mengalieanasi diri sendiri, ketika kita menyatakan mencintai diri sendiri itu adalah suatu yang mutlak tidak ada yang patut dicintai di luar diri selain diri sendiri (seperi ubermensch nietschze) justru telah mengalieansi diri dari kebenaran itu sendiri. Seperti ketika kita menyadari cinta akan diri sendiri, pemahaman kita akan diri sendiri akan terus kepada pemahaman tentang hakikat diri sendiri berasal yaitu dari kebenaran mutlak, kita akan menyimpulkan ada suatu awal dari aku yang disebabkan satu kebenaran mutlak sehingga satu kebenaran mutlak yang berada di luar aku patutlah aku agungkan dan hargai. Menyatakan tiada kebenaran mutlak akan jatuh kepada jurang nihilisme, nietschze berusaha menutup nihilisme ini dengan ubermensch-nya yang menempatkan diri sendiri pada posisi paling sentral dan yang mengatasi manusia atas kematian Tuhan. Bukankah sebenarnya juga masih dalam nihilisme? Diri sendiri tanpa arah yang menganggap diri sebagai super sebagai kehendak untuk berkuasa untuk menjadi kuat tanpa mempunyai nilai kebenaran. Untuk itulah “cinta” selalu membutuhkan objek yang dicintainya di luar diri sendiri bukan hanya diri sendiri sebagai manusia super.

Selanjutnya unsur “kamu” jika kita lihat dari kalimat “aku cinta kamu” berdasarkan susunan gramatikal kita akan lihat “kamu” diletakkan sebagai objek. “aku” sebagai subjek, “cinta” sebagai predikat. Dengan melihat susunan subjek-objek ini seolah-olah subjek menempati tempat yang lebih tinggi, sehingga tejadi pengobjekkan tehadap “kamu”. Secara sintaksis (gramatikal) memang terlihat ada pengobjekkkan, namun kita harus melihat struktur bahasa ini secara semiotika (ilmu mempelajari tanda, dalam hal ini bahasa sebagai tanda) yang utuh. Kalimat “aku cinta kamu” dan “aku peluk guling” secara sintaksis memang mempunyai kesamaan, karena susunan yang sama. tetapi kalimat tersebut mempunyai nilai semantik (arti) yang berbeda, “aku peluk guling” berarti aku sedang melakukan pemelukkan terhadap suatu benda yang ada didunia ini, dari sini jelas guling sebagai benda merupakan objek yang sedang diperbuati sesuatu oleh aku sebagai subjek. Namun “aku cinta kamu” mempunyai nilai semantik yang berbeda karena yang menjadi objek juga merupakan subjek yang berkehendak. Dalam Kalimat ini sang aku menyatakan ketidakberdayaan aku sehingga membutuhkan suatu cinta kepada kamu, “kamu” bukan hanya sebagai objek, namun “kamu” juga sebagai subjek, walau kamu dalam pengamatan aku yang merupakan objek di dunia dalam pengamatan aku tetapi aku menyadari kamu sebagai subjek yang berkehendak bukan sebagai benda. Oleh karena itu Kalimat ini merupakan pernyataan perasaan yang membutuhkan peran “kamu” juga sebagai subjek sehingga secara semantik kalimat ini bukan lagi sebagai penempatan subjek-objek tetapi sebagai intersubjektifitas. Akibat dari adanya intersubjektifitas ini maka kalimat ini juga mempunyai nilai pragmatik yaitu harapan si aku agar kamu sebagai subjek juga merasakan hal yang seperti apa yang aku rasakan, sehingga sudah suatu niscaya ketika sang “aku” menyatakan “aku cinta kamu” sang “aku” akan mempunyai harapan dari “kamu” untuk menjawab kembali “aku juga cinta kamu” inilah yang dinamakan intersubjektifitas sesuatu yang dihayati secara bersama.

“Allah” dalam kalimat “Aku mencintaimu karena Allah SWT” merupakan unsur sebab dari “aku mencintaimu”. Unsur “Allah” ini menjadi sebab dari segala kecintaannya aku. Bagaimana bisa Allah sebagai Tuhan menjadi sebab dari cinta antar manusia? Memang jarang orang yang memikirkan sebab cinta yang seperti ini, kebanyakan orang yang bercinta sesama manusia selalu berkutat pada sebab-sebab cinta seperti karena kebaikannya, karena kecantikkannya/ketampanannya, karena hartanya. Sebab-sebab ini bukanlah berarti salah, karena unsur-unsur seperti ini juga menjadi pertimbangan seseorang dalam memilih. Tetapi penempatan sebab-sebab ini pada proporsi yang berlebihan akan terjerumus ke penilaian-penilaian yang subjektif dan relatif. Karena kebaikan,kecantikkan/ketampanan,kekayaan adalah penilaian subjektif dari manusia dan penilaian subjektif akan selalu berubah dalam perjalanan hidup manusia. Kita ambil contoh cinta yang berlandaskan kerelativitasan :

seorang pria melihat ada seorang wanita yang cantik dan karena kecantikannya pria tersebut berusaha mendekatinya hingga akhirnya pria dan wanita itu menjadi pasangan, namun karena yang menjadi penilaian pria tersebut adalah nilai cantik, maka dimungkinkan ketika datang lagi seorang wanita lain yang lebih cantik maka perasaan subjektif pria tersebut kembali dipakai, pria tersebut memberi penilaian lebih terhadap wanita lain tersebut. Karena cantik yang pertama lebih kecil dari cantik kedua maka ada kecenderungan pria tersebut untuk beralih ke cantik kedua. Hal ini karena dilandaskan kepada nilai-nilai subjektif.

Begitu juga ketika seorang pria hendak mencintai wanita dengan alasan kebaikan wanita tersebut. Kebaikan seseorang juga merupakan penilaian subjektif orang, karena ketika kita lihat baik menurut A belum tentu baik menurut B. jika yang menjadi alasan utama seseorang pria mencintai wanita karena kebaikannya juga akan masuk ke relativisannya. Sama seperti contoh diatas ketika datang wanita lain yang lebih baik tentu pria tersebut akan memberikan penilaian yang lebih, sehingga kecenderungan pria tersebut juga dapat beralih ke wanita baik kedua.

Penilaian-penilaian subjektif seperti diatas memang tidak mempunyai takaran yang jelas tergantung bagaimana seseorang yang memberikan nilai. Untuk itulah selain menggunakan alasan-alasan yang subjektif sebaiknya kita juga menggunakan alasan yang objektif . bagaimana bisa menjamin objektifitas cinta kepada sesorang? Untuk mencapai objektifitasnya kita harus menyadari adanya seseorang itu dalam dunia ini, nampaknya orang yang kita cintai tersebut dalam kesadaran kita. Orang tersebut harus Nampak dalam pengamatan kita sebagai fenomena yang hadir dalam kesadaran kita. Untuk menjamin objektifitasnya  kita harus mengurung terlebih dahulu perasaan-perasaan subjektif kita semua prasangka-prasangka terhadap orang tersebut. setelah itu kita menyadari orang tersebut sebagai fenomen murni yang Nampak, kita menyadari orang tersebut tanpa prasangka-prasangka subjektif merupakan langkah obejtifikasi. Setelah nampaknya orang tersebut sebagai fenomen murni maka kita dapat melampaui sesuatu diluar orang tersebut, mendapatkan ide-ide tentang adanya orang tersebut.  ide-ide itulah puncak dari kesadaran kita terhadap orang tersebut. ide-ide transcendental yang mendasari adanya orang tersebut. adanya orang tersebut, dunia disekitarnya dan kesadaran diri saya akan penghayatan orang tersebut bersumber dari kesadaran transcendental saya yaitu kesadaran saya atas adanya Tuhan. Sehingga alasan “mencintaimu karena Allah SWT” sesungguhnya dapatlah dikatakan sebagai alasan fundamental sebagai hakikat cinta antar manusia. Hal ini bukan berarti setiap kehendak manusia menyatakan cinta disamakan dengan kehendak Tuhan, bukan berarti setiap perbuatanku adalah perbuatan Tuhan. Manusia mempunyai kehendak bebas (free will) untuk menentukan hidupnya, hal ini tidak mungkin tidak ada, karena seandainya tidak ada maka tidak akan ada surga dan neraka. “aku” dalam “aku mencintaimu” adalah aku yang sadar akan kehendakku dalam artian aku yang ber free will. Unsur sebab “Allah” disini adalah sebagai pengalaman intuisi aku, suatu pengertian akan ke-totalitasan aku, suatu pemahaman holistik akan keberadaan aku, suatu kecintaan kepada Tuhan yang merupakan sebab dari segala sebab. Hingga aku yang berfikir keberadaan aku tak mungkin ada tanpa adanya Tuhan, hingga adanya aku disini dan adanya kamu disini merupakan ekses dari adanya Tuhan. Cinta Tuhan inilah yang menjadi nafas dari segala cinta kemanusiaan. Kita dapat lihat pada Al-Quran surat Ar-Rum ayat 21 yang menyatakan :

dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa Kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”

Kaum berfikir disini yang dimaksud adalah manusia yang berfikir. Berfikir berarti menggunakan nalar/rasionya. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah kedudukan rasio yang tinggi dalam mencari tanda-tanda kekuasaan Tuhan, dengan berfikir kita dapat menemukan kuasa Tuhan yang sangat amat luas. Kondisi berfikir dan mengagumi  kuasa Tuhan inilah yang dapat kita sebut sebagai berfikir tentang totalitas diri kita, berfikir tentang hakikat diri kita yang terdalam, berfikir tentang sebab adanya segala sesuatu. Akibat berfikir yang totalitas kita ini kita menyadari adanya diri kita berawal dari sebab yang mutlak ini sehingga tanpa adanya Tuhan tiada-lah adanya “aku”, “kamu” dan”cinta”. Dan hanya Tuhanlah yang maha pencipta segalanya. Untuk itulah Tuhan menciptakan rasa kasih sayang atau cinta di antara sesama manusia agar manusia juga senantiasa selalu berfikir tentang keagungan Tuhan. kasih sayang atau cinta sejati muncul akibat dari pemikiran kita tentang Tuhan, berfikir sedalam-dalamnya tentang Tuhan memunculkan perasaan pengagungan luar biasa kepada Tuhan hingga hanya dialah yang maha kuasa, maha penyayang hingga apabila kita berfikir tentang tuhan sifat-sifat ketuhanan inilah yang melekat pada diri kita, muncullah kasih sayang antar sesama manusia. Kasih sayang yang transendental, kasih sayang yang seutuhnya.

Begitupula dengan apa yang telah dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim : ““Berwasiat-wasiatanlah- kamu terhadap perempuan dengan sebaik-baik­nya. Karena kamu mengambilnya jadi isteri ialah sebagai amanat dari Allah, dan barulah halal kehormatannya bagi kamu setelah dihalalkan dengan kalimat Allah.” Kesadaran kepada Allah-lah yang melandasi kesadaran cinta kita kepada manusia, karena memang cinta kepada manusia merupakan amanat dari Allah dan segala sesuatunya haruslah kita kembalikan kepada Allah. Maka dari itu yang harus diperhatikan pertama-tama ketika hendak menjalin suatu cinta antar manusia adalah kesadaran akan Allah dalam tindakannya, Akhlak-lah yang pertama harus kita perhatikan yang selanjutnya penilaian-penilaian subjektif lainya seperti kecantikannya, hartanya, dan lain-lain mengikuti.

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan kalimat “Aku mencintaimu karena Allah SWT” bukanlah kalimat yang tidak bermakna, melainkan kalimat yang mempunyai makna yang dalam.    Kata Allah adalah makna dari segala makna ia bukanlah tanpa makna, justru tanpa itu hidup kita tidak bermakna. Oleh karena itu kita tidak harus berdiam diri tentang kata tersebut melainkan mencari makna terdalamnya.  “Aku mencintaimu karena Allah SWT” merupakan suatu pernyataan ontologis eksistensi manusia sebagai manusia yang saling berkasih sayang berkat rahmat ketuhanan dan ini adalah makna terdalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: