HARAPAN DAN KEMATIAN

Oleh Rega Felix

 

Seorang dosen saya memberikan suatu tugas untuk difikirkan/renungi dengan memberikan pertanyaan : “jikalau saya sudah dipanggil oleh yang maha kuasa apa yang saya harapkan dari orang-orang yang saya tinggalkan dan siapa saja yang saya harapkan hadir dalam pemakaman saya?”

Lalu saya merenungi tentang kematian. Dalam permenungan saya tidaklah mudah mencari jawabannya karena memang keberadaan kita dan kematian bukanlah suatu yang “simple” untuk difikirkan tetapi misteri yang terus berada sepanjang eksistensi kita. Setelah lama saya merenung untuk menjawab pertanyaan dari dosen saya muncullah pertanyaan yang mempertanyakan kembali pertanyaan dosen saya, apakah mungkin seseorang yang sudah tiada di dunia mempunyai harapan seperti yang kita bayangkan saat kita berada di dunia? Apakah jika saat ini saya hidup dan mempunyia harapan setelah kematian akan ada kesamaan harapan disaat kita meninggal?

Atas dasar pertanyaan balik ini saya mencoba menjawab untuk tidak bisa menjawab pertanyaan dosen saya. Pertanyaan balik itu muncul dari permenungan tentang eksistensi saya di dunia. Saat kita menyadari eksistensi kita di dunia kita hidup selalu menghadap dunia, disanalah kita dituntut untuk berkehendak terhadap dunia. Kita selalu berkehendak dalam temporalitas (waktu) kita di dunia, oleh karena itu setiap kehendak kita juga merupakan aktivitas kesadaran kita terhadap waktu. Karena kesadaran akan waktu manusia senantiasa berfikir atas kehendaknya . karena sadar setiap kehendak yang diperbuat saat ini hanya dapat dilakukan sekali tanpa bisa di ulang lagi di masa depannya, oleh karena itu manusia mempunyai harapan agar kehendaknya selalu mempunyai dampak yang baik bagi masa depannya. Kita hidup dalam cakrawala waktu, yaitu masa lalu-masa kini-masa depan. Kita dalam menghadap di dunia pasti selalu memproyeksikan dunia dalam cakrawala ini. Dan proyeksi itu tersimpulkan dalam harapan-harapan akan masa depan yang merupakan konstruksi dari kondisi masa lalu dan masa kininya, harapan itu selalu ada di masa depan. Masa depan ini merupakan bentuk antisipasi kita terhadap segala yang kita hadapi di masa kini, oleh karena itu masa depan merupakan harapan yang membentuk kehendak kita saat ini. Adanya cakrawala waktu inilah yang menyebabkan adanya harapan dalam diri manusia.

Keberadaan kita yang terikat lintasan waktu membuat harapan-harapan kita selalu membentuk dan menjadi, ya kita selalu meng-ada-kan diri kita. Kita meng-ada-kan dengan harapan kita sebagai antisipasi atas ada kita saat ini. Dan dalam kondisi meng-ada ini kita-pun akan menemui titik batas dimana masa depan harus dihadapkan dengan kondisi ketiadaan eksistensi kita, yaitu kematian. Titik batas ada kita itulah yang selalu menjadi misteri eksistensi kemanusiaan karena memang manusia yang meng-ada tidak mampu memproyeksikan kematian seutuhnya. Karena memang manusia tidak bisa mengatasinya titik batas ini menjadi bentuk antisipasi terbesar manusia terhadap eksistensinya, adanya kematian yang niscaya membuat manusia semakin menghayati waktunya.

Jikalau harapan manusia muncul dari meng-ada-nya dalam cakrawala waktu, dan kematian merupakan jalan keabadian yang mengatasi waktu. Kita kembali ke-pertanyaan balik kita bagaimana bisa harapan muncul dalam kematian? Kita ketahui keabadian/ sesuatu yang absolute merupakan jalan tersingkapnya semua realitas, ia mengatasi dimensi ruang dan waktu karena segala yang temporal tidak mungkin abadi. Kematian berarti peralihan eksistensi kita yang temporal ke dunia keabadian. Sebagai jalan pulang ke rumah abadi dimana setiap kebenaran tersingkap. Apakah jika setiap kebenaran tersingkap kita berharap seperti dimana kita berharap di dunia? Sulit menemukan rasionalitas adanya harapan dalam kematian kita. Oleh karena itu kematian tetap menjadi misteri dan hanya milik tuhan yang maha esa.

Jadi pertanyaan dari dosen saya tidak bisa saya jawab. Karena dari pertanyaan itu dapat muncul pertanyaan kontrari bagaimana mungkin saya berharap dalam kematian saya? kita yakini bahwa kematian itu bagian dari misteri hidup kita dan seutuhnya milik Tuhan yang maha kuasa. Jikalau memang ternyata ada harapan dalam kematian harapan itu pasti tertuju kepada yang mutlak juga yaitu Tuhan yang maha esa, dalam keabadian kita harapan kita tak akan tertuju kembali kepada dunia yang temporalitas termasuk di dalamnya orang-orang yang kita tinggali. Hal ini bukan berarti kita menolak untuk didatangi dalam pemakaman kita atau menolak untuk di doakannya kematian kita, hanya saja memang dalam kematian kita, kita tak mempunyai harapan tentang dunia.

4 responses to this post.

  1. Sangat setuju dengan pertanyaan yg jadi jawaban atas pertanyaan dosen tsb. Bagaimana mungkin kita mengajukan pertanyaan yg dalam kerangka berpikir duniawi. Emang kalau kita sdh mati, penting gitu mengetahui siapa saja yg hadir dalam pemakaman kita?

    Reply

  2. terimakasih saudari Evi. ya, kematian bukan lagi urusan duniawi, itu adalah urusan yg bersifat Ketuhanan. ga perlu berfikir2 tentang duniawi lagi, urusannya udah beda. dan ga penting nampaknya jika sudah mati masih mau tentang dunia. bahkan kalo lagi hidup di dunia aja kita harusnya selalu mikirin mati, ini kalo udah mati tapi mikirin dunia kan aneh

    Reply

  3. Posted by Sukardi Paraga on October 8, 2012 at 3:33 am

    Berharaplah saat anda masih hidup, karena kematian akan memisahkan dari harapan anda…” Apabila anak cucu Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah amalnya (termasuk harapan-harapannya) kecuali (berharap) kepada tiga hal :
    1. Sedekah jariyah;
    2. Ilmu yangf bermanfaat, dan
    3. Anak yang saleh.

    Harapan seseorang dari upayanya melakukan ketiga hal di atas disaat masih hidup, akan diwujudkan oleh Allah SWT saat manusia telah meninggal dunia…

    Semoga bermanfaat…

    Reply

    • terimakasih saudara Sukardi atas masukannya. tulisan diatas merupakan renungan2 pendek soal kematian yang tentunya bisa mengalami perubahan. dan saat perenungan itu sebenarnya berfokus pada perkara2 “wujud” yang hakiki dan hubungannya dengan eksistensi manusia yang meletakkan “harapan” saat ini, saat itu saya belum menyentuh perkara kebangkitan (ma’ad) jasmani sesudah kematian. saya mengaitkan “harapan” sebagai tujuan sejati, sehingga harapan selalu merujuk kepada realitas sejati/”wujud absolut” atau yang kita sebut Allah SWT. Tidak bermaksud menghilangkan 3 perkara ; sedekah,ilmu,doa anak saleh tetapi hanya tak menggantungkan kpd perbuatan itu, jadi ke-3 perbuatan itu ditambah menjadi sedekah karena Allah, ilmu karena Allah, Doa anak saleh karena Allah. peletakkan karena Allah inilah yang menjadi dasar “harapan” satu2nya hanya berharap ridho Allah karena ia sebagai satu2nya dzat yang hakiki yg pantas diharapkan

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: