WACANA MANUSIA DAN TUHAN

Oleh Rega Felix

Pembahasan mengenai Manusia dan Tuhan merupakan topik yang tak ada habis-habisnya dalam perjalanan hidup manusia, selain itu topik ini dianggap sebagai topik yang sulit karena berhubung dengan realitas ultim yang transenden. pada kesempatan kali ini saya mencoba menulis topik-topik ini dalam keterbatasan ini. Pertama saya ingin sedikit menjabarkan tentang eksistensi Non-Materi/metafisik. Hal ini berguna  untuk menambah keyakinan kita tentang adanya alam non materi. karena itu saya mulai dengan pertanyaan : “memang benar ada eksistensi metafisik? Kalau begitu apa buktinya?” dari pertanyaan-pertanyaan inilah kita didorong dengan pemikiran untuk membuktikan “Ada”nya alam metafisik, dengan begitu kita harus menyodorkan argumentasi tentang keberAdaannya. darisinilah dasar pertama kita untuk terus melangkah.

Kita mulai dengan “manusia” darimana muncul kata (bukan dalam artian bahasa) “manusia” dalam fikiran kita? Kata itu muncul dari kesadaran mental kita, ketika kita disuruh menjelaskan wujud manusia tentunya sulitah kita menjabarkan manusia yang utuh. mungkin kita hanya bisa menunjuk kepada si ”Anton”,”Andin”,”Adul” yang tentunya adalah wujud “manusia” yang partikular/berbeda-beda bukan sebagai manusia yang utuh. semua yang kita tunjuk itu mencirikan manusia yang berbeda-beda bukan manusia utuh yang universal, karena “manusia” yg universal itu sendiri ada dalam mental kita. Dan itulah kemampuan manusia mengklasifikasikan objek yang didepannya dengan mentalnya. Sehingga kita dapat memilah-milah “Anton” “Andin “Adul” kedalam kategori “manusia”. Menemukan kata “manusia” merupakan proses immaterialisasi/abstraksi, dengan demikian yang ada dalam mental kita adalah prototype tentang “manusia” yang utuh/yang ideal yang dengannya kita bisa menyesuaikan wujud-wujud partikular didepan kita kedalam kategori “manusia”. Dan “manusia” itu sendiri yang ada didalam mental kita.  Darisini pula kita bisa membicarakan tentang “keseluruhan” kita dapat mempertanyakan tentang hakikat “keseluruhan” dari dunia ini. “darimana Ada dunia ini?” “Dunia” menjadi suatu abstraksi mental manusia ketika melihat keseluruhan dari apa yang dilihatnya. Dari situ ia juga bisa mencari dasar-dasar hakikat logisnya sesuai dengan sebab-akibat.  Apa yang mewujudkan Dunia ini (yang merupakan keseluruhan)? Jawaban itu berada dalam kesadaran mental kita yang metafisis. Dan dengan itu kita merujuk kepada adanya sebab pengAda dunia yaitu suatu wujud absolut (yang disebut Tuhan), hal ini berdasarkan kepada bahwa segala akibat pasti mempunyai sebab, dan dunia ini secara keseluruhan pasti mempunyai sebab yang menyebabkan dunia ini terselenggara. Dengan dalil bahwa setiap sebab pasti mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada akibat maka sebab terselenggaranya dunia ini pasti suatu yang paling tinggi. Oleh karena itu Tuhan merupakan sebab pertama (causa prima), sebagai penggerak yang tak tergerakkan, dan karena setiap gerak butuh waktu dan sebab pertama tak butuh apa-apa maka sudah pasti sebab pertama tak membutuhkan gerak karena itu tak tergerakkan dan pastinya absolut karena tak butuh waktu, dunia inilah yang menjadi akibat sehingga dia bergerak dan berada dalam ruang dan waktu. Karena Tuhan itu sendiri mengatasi ruang dan waktu maka itulah basis dari segala basis metafisik/non-materi. Darisini kita dapati bukti adanya metafisika, seperti kita menyadari mental kita  sendiri yang secara keseluruhan selalu menyadari adanya sebab dari segala sesuatu.

Lalu bagaimana hubungan antara yang metafisik dengan jasad manusia? Apakah ruh itu satu dari yang maha satu atau terdiri dari banyak yang berawal dari maha satu? mungkin kita bisa mulai dari hubungan antara Tuhan sebagai Wujud utama (biasanya dalam filsafat Islam disebut sebagai “wajibul wujud” (wujud yang niscaya/absolut) dengan alam semesta(dunia). Wajibul wujud sebagai wujud utama menjadi sebab dari segala akibat dan ia mengatasi ruang dan waktu, tunggal dan berbeda dengan segala makhluk-Nya, berAda secara niscaya. ketika belum terselenggara dunia, masih berada dalam “awang-uwung” Tuhan sebagai zat  tunggal yang memikirkan zat-Nya, dari Zat yang memikirkan Zat-Nya termanifestasi segala akibatnya yaitu muncul alam semesta(dunia), dunia adalah makhluk karena derajat keberAdaannya dibawah wajibul wujud karena dia berAda tergantung pada wajibul wujud sehingga derajat Adanya dunia sebagai wujud yang ‘mungkin’ saja (tidak niscaya, atau biasanya dalam filsafat Islam disebut  ‘mumkinul wujud’). Dengan demikian seluruh kejadian di dunia pada hakikatnya adalah karena Adanya wajibul wujud sebagai pengAda, dan tiap-tiap entitas di dunia mempunyai karakter kekurangan yang selalu membutuhkan sesuatu untuk dapat mewujudkan dirinya.

Karena dunia ini pada hakikatnya berawal dari yang satu, maka dunia ini sebenarnya satu yaitu suatu yang ketergantungan pada yang maha satu. Bisa dikatakan karena zat yang mutlak memanifestasikan diri maka bisa kita katakan Tuhan adalah keseluruhan dan keseluruhan adalah Tuhan, atau Tiada Wujud selain Wujud Tuhan, “Laa illaha illallah” , tiada “illah-illah” selain “illah” itu sendiri biasa kita artikan Tiada Tuhan selain Allah. Yang paling kontroversial dari syeikh siti jenar “la illaha illa ana” Tiada Tuhan selain saya. Karena saya pada hakikatnya tak Ada karena yang Ada hanya Tuhan dengan demikian saya-pun merujuk pada Tuhan karena saya pada hakikatnya tak pernah ada. Jika kita sebut “jasad ini” sesungguhnya tak Ada-lah jasad ini, ini hanya manifestasi dari yang tak terbatas itu sendiri. Darisini mungkin bisa kita tangkap “Ruh” kita berasal dari yang Satu. Dan semuanya itu menyatu kepada yang Satu. dengan demikian ruh saya adalah ruh dia ruh dia adalah ruh kamu ruh kamu adalah ruh Aku. Apakah ada kata “banyak” jika kita adalah Satu? “Anton”, “Andin”, “Adul” tak pernah Ada, “Rega” tak pernah Ada karena “Aku” adalah Satu.

Tanggapan dan jawaban

1.    “Jika Tuhan adalah sebab utama, sebab dari segala akibat, apakah potensi kejahatan  juga berasal dari Tuhan? Ini juga berkaitan dengan perkataan rega pada kalimat “seluruh kejadian di dunia pada hakikatnya adalah karena Adanya wajibul wujud sebagai pengAda”. Apa kejadian buruk juga termasuk?”

 

Kita mulai dengan “zat-Nya mencakup segala sesuatu” dengan demikian segala sesuatu tak bisa terlepas dari zat-Nya. Hal ini karena pengetahuan dan perbuatan Tuhan mencakup segala sesuatu tak bisa satupun yang terlepas dari Tuhan karena itu segala sesuatu adalah manifestasi dari Tuhan. Kita masuk kepada penjelasan logis, Didalam sistem berfikir ada yg bernama “substansi” dan “aksidensi”. Substansi itu yang mencirikan sesuatu sebagai sesuatu itu sendiri, aksidensi yang memberikan ciri pelengkap dari sesuatu. Seperti bagaimana kita membedakan antara pohon mangga dengan pohon duren, kita bisa membedakan jika kita mengetahui substansi pembedanya, yaitu adanya “ke-mangga-an” dan “ke-duren-an” yang dua-duanya berbeda, dua-duanya mempunyai substansi yg berbeda yg mencirikannya sebagai sesuatu, sehingga kita bisa memilah ke dalam dua pengertian pohon yang berbeda. Sedang aksidensi itu yg selanjutnya menunjukkan sifat-sifat pelengkap dari pohon tersebut seperti lebar daunnya, warna daunnya, besar batangnya,dll. tetapi hanya dengan aksidensi kita tak bisa membedakan dua jenis pohon tsb. kita juga memandang Tuhan dan alam semesta dengan prinsip ini, dimana Tuhan merupakan substansi segala maujud, sehingga segala maujud bukanlah sesuatu yg terpisah, tetapi merupakan sifat-sifat dari wujud hakiki itu sendiri.

Apakah substansi materi di dunia itu berdiri sendiri? Ternyata tidak, karena “ke-mangga-an” tak terjadi Ada dengan sendirinya karena Adanya ke-mangga-an juga membutuhkan Adanya Ke-tanah-an atau juga ke-udara-an untuk menopang sebuah pohon mangga sehingga ada ke-mangga-an dalam fikiran kita. Dengan hukum kausalitas segala sesuatu membutuhkan sebab agar sesuatu ada, begitupula segala substansi akan membutuhkan sebab pengAda yang sampai pada akhirnya kepada substansi dari segala sesuatu yaitu wajibul wujud sebagai sebab dari pengAda segala sesuatu. Tiada substansi yang terlepas dari pengawasan dan kehendak Tuhan bahkan sebesar atom-pun karena sudah tertuang dalam qadha dan qadarnya yg tertulis dalam lauh mahfudz-Nya.

Hal ini juga berlaku dengan substansi “ke-buruk-an” dan “ke-baik-an”. sesungguhnya idea tentang keburukan dan kebaikan sudah ada berdasar kehendak Tuhan. Di alam-alam jiwa idea itu muncul dan di alam materi-lah kebaikan dan keburukan terlaksana melalui manusia. ketika di alam materi ini, manusia yang  salah menafsirkan kadang-kadang manusia ‘kekeh’ ingin mengecap bahwa yg buruk itu buruk melalui matanya, padahal di alam lain yang buruk itu belum tentu buruk di mata Tuhan. Karena pada level zat (yg mutlak), dia itu sendiri melampaui baik-buruk dan setiap kehendak-Nya adalah kebaikan itu sendiri walaupun terlihat itu buruk. Karena zat-Nya melampaui segala pertentangan yang ada baik-buruk,benar-salah,dan lain sebagainya,  Karena zat-Nya tidak berbilang dan ia adalah substansi dari segala sesuatu. Kalau kita ambil contoh kita bisa melihat kisah antara nabi Musa dan khidir. saat itu musa memandang buruk dengan mata musa dan khidir melalui mata Tuhan, dari kisah itu akan terlihat ambiguisitas perbuatan khidir yg seolah-olah baik-buruk menjadi samar. Apabila kita memandang dengan mata Tuhan maka dikotomi baik-buruk itu teratasi dengan memandang dengan zat-Nya. Darisini penting memahami khidir dengan hati-hati karena interpretasinya macam-macam, ada syair tentang ini :[1]

Khidir memotong leher anak laki-laki itu;

Masyarakat awam tidak memahami rahasianya.

Orang yang menerima wahyu dan firman dari Allah;

Segala tindakannya adalah kebenaran.

Benar juga bila pemberi jiwa mengambil jiwa;

Ia adalah khalifah,tangannya adalah tangan Allah.

Jika khidir membocorkan bahtera di lautan;

Terdapat seratus kebenaran dalam pembocoran ini.

Akal musa dengan seluruh nur dan seni itu tertutupi;

Janganlah terbang bila kamu tidak bersayap

 

Darisini kita bisa dapati segala sesuatu yang buruk menurut kita belum tentu buruk di mata Allah.  “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, ayat : 216)

Selanjutnya untuk memahami hakikat zat-Nya serta sifat-sifat-Nya dan hubungan dengan baik-buruk kita juga perlu memahami tingkatan alam. saya kutip dari buku yg sama yaitu :

Manifestasi Tuhan terdiri dari berbagai macam tingkatan, pertama berasal dari alam akal sederhana/akal pertama yaitu akal zat dari zat-Nya yg kemudian bermanifestasi menjadi;

  1. Alam jabarut ;disini alam seluruh akal, ruh universal, dan metafisik
  2. Alam malakut ; disini disebut juga alam mitsal (idea-idea) terletak diantara alam metafisik dengan alam materi, mitsal itu sesuatu yg memiliki bentuk dan ukuran tetapi bukan materi. Sebagai contoh imajinasi kita tentang sesuatu benda duniawi, dia real sebagai idea di kepala kita
  3. Alam mulk ; disinilah alam materi

Bisa dikata bahwa pada akal pertama/sederhana tiada keberbilangan karena seluruhnya esa, oleh karena itu tidak ada dikotomi antara baik-buruk, benar-salah, bahkan fikiran kitapun sulit menjelaskan hal ini sepanjang kita masih berada di alam manusia ini karena disana melampaui segala “kata-kata”, imam Ali berkata dikutip dalam ‘nahjul balaghah’ “ketika akal meningkat,kata-kata menyingkat” kalau kita hubungkan  mungkin bahkan kata-kata itu sendiri akan sirna dihadapan-Nya. Selanjutnya setelah akal pertama termanifes kedalam alam jabarut yang merupakan alam ruh-ruh suci disinilah letak kesaksian wujud Tuhan, setelah itu muncul dikotomi antara baik-buruk ketika lahir alam materi yg diketengahkan diantaranya oleh alam mitsal. dan semuanya merupakan manifestasi yang tak terpisahkan dari akal sederhana. Khidir memandang tidak memakai alam-alam bawah tetapi dia memandang dengan akal pertama itu sehingga terlihat ambiguisitas perbuatan khidir yang seolah-olah buruk tetapi di mata-Nya belum tentu buruk.

Begitupula Saya kutip dari ayat Al-Quran untuk ini, surat asy-syams ayat 7-10 : “demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”

Dari ayat ini kita bisa memaknai bahwa memang jalan kejahatan (buruk) dan ketakwaan (baik) dari Allah namun bentuknya dalam bentuk ilham yaitu ketika di alam mitsal yang dijalani manusia melalui fikiran dan dunianya, dan itu dilaksanakan oleh manusia entah itu kejahatan ataupun kebaikan namun kedua-duanya secara idea tetap dari Allah dan setiap yang dari Allah adalah “baik” secara dzat, manusia tinggal memilih yang mana. dari ayat tersebut juga terlihat adanya kebebasan berkehendak dimana ada kata barangsiapa yang menyucikan jiwa yaitu mereka yg didalam jiwanya terlepas dari anasir-anasir alam materi sehingga derajatnya di angkat ke alam yang lebih tinggi, dan orang yg mengotorinya jiwa itu akan terus berada dalam alam materi (alam yang kotor). Ibaratnya kita simpulkan dalam bahasa lain bahwa Allah menciptakan dunia dengan tetap dengan “script” ceritanya yg berupa idea-idea Allah tentang kehendak-Nya dan dunia tak bisa terlepas dari “script” itu, lalu dicipta manusia yang juga hidup dalam alur script-Nya, manusia mempunyai kecenderungan bisa memilih mau masuk script yang mana baik scenario jahat maupun scenario baik, dua-duanya mempunyai akibat yang berbeda dan disitulah ada pertanggungjawaban, dan untuk mengerti pertanggungjawaban kita juga harus mengerti tingkat-tingkataan alam sebagai jalan pulang.

2.    apakah semua perbuatan kita merupakan takdir dalam kehendakNya? Sehingga kita tidak dapat disalahkan atas dosa-dosa kita karena itu termasuk dalam bagian kehendakNya? Lalu menurut rega dimana letak kebebasan berkehendak kita jika “tiada Tuhan selain aku”?

 

Soal takdir saya coba kutip langsung dari Mulla sadra, beliau berkata tentang Qadha dan Qadar “Qadha merupakan eksistensi semua maujud dengan hakikat universalnya dan bentuk-bentuk konseptualnya di alam akal (al-alam al-aqli) dalam bentuk universal, bukan melalui penampakan. Ia berkaitan dengan al-haqq al-awwal, dan terdapat di wilayah ilahi yang tidak sepatutnya dipandang termasuk sejumlah alam dalam arti sesuatu selain Allah. Akan tetapi, ia dipandang termasuk kebutuhan-kebutuhan Zat-Nya yang tidak diciptakan. Ia adalah khazanah-khazanah Allah SWT yang merupakan pancaran cahaya serta kilauan keindahan dan keagungan. Dan qadar dibagi 2 menjadi qadar ilmi dan qadar khariji. Qadar ilmi adalah teguhnya forma semua maujud di alam jiwa (al alam an nafsi) dalam bentuk parsial sesuai dengan apa yang ada di alam materi eksternalnya yang bersandar pada sebab-sebab dan ‘illah-nya, keharusan bagi waktunya, dan tercipta di dalam kemampuan kognitif dan jiwa impresionistik. Sementara itu qadar khariji (eksternal) merupakan eksistensi maujud di dalam materi-materi eksternalnya yang terpisah satu per satu, terikat dengan waktu-waktu dan zaman-zamannya dan bergantung pada materi-materinya, dan kesiapannya terangkai tanpa terputus-putus.”[2]

Darisini sebenarnya kita bisa sesuaikan makna qadha dan qadar menurut sadra ke dalam tingkatan alam. karena qadha itu merupakan hakikat universalnya dan bentuk-bentuk konseptualnya di alam akal (al-alam al-aqli) dalam bentuk universal segala maujud sehingga dia berada di alam akal yang lebih tinggi dari dunia indera dan imajinasi yaitu alam jabarut dimana menjadi penetapan segala maujud yang universal. Bisa di bilang qadha disini Tuhan ingin menetapkan dirinya sebagai wujud yang absolut dan hakiki sebagai cahaya diatas cahaya yang memancarkan segala keindahan dan keagungan, inilah ketetapan paling tinggi. Tiada wujud selain wujud Allah, dan segala sesuatu akan kembali kepada Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Adakah ketetapan yang lebih indah daripada ini? Ada kisah dalam ‘nahjul balaghah’ : “amirul mukminin Ali mendengar seorang lelaki membaca,”sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali”, lalu ia berkata ; bacaan kita “inna lillahi” (sesungguhnya kita milik Allah) adalah suatu pengakuan akan kewalian-Nya atas diri kita, dan bacaan kita, “wa inna ilaihi rajiun” (dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali) adalah pengakuan bahwa kita fana”.

Pada wilayah qadar sudah terhubung dengan alam-alam mitsal yang partikular, dalam artian ia adalah wilayah idea-idea tentang alam. bisa di bilang ini berada pada wilayah sebab eksternal karena berhubungan dengan alam materi (dan ini terkait dengan hukum-hukum alam). Sebagai contoh telah ditetapkan bahwa substansi air memiliki sifat basah, maka sesuai dengan qadarnya sesuatu yang terkena air akan basah. Seseorang tahu bahwa jika saya mandi maka saya basah, namun pilihan untuk mandi itu tetap pada manusia tetapi rumusan sebab-akibat dari air-basah adalah tetap

Ibaratnya saat kita didepan sungai kita tahu bahwa didalam sungai saya akan merasakan basah dan itu adalah ketetapan yang niscaya dari Tuhan karena sudah merupakan qadar Tuhan, namun saya tetap memiliki keadaan untuk memilih secara bebas apakah saya akan masuk ke sungai atau tidak masuk ke sungai. dan kita hidup berada dalam ketetapan-ketetapan semacam itu yang jumlahnya banyak sekali. Dan semua itu telah tertulis teguh sebagai forma di dalam jiwa. Jadi segala sesuatu sudah ada di dalam lauh mahfudz-Nya, “dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang didarat maupun di laut. Tidak ada sehelai daunpun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah ataupun kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Al-Anam 59)

Dan sesungguhnya qadha dan qadar itu ada di kedalaman diri kita, tersembunyi secara halus, seperti kata sadra “alam-alam ini, baik universal maupun parsialnya, seluruhnya merupakan kitab-kitab ilahi dan catatan ke-Mahasucian bagi cakupannya atas kalam-kalam Allah yang sempurna. Alam akal dan alam jiwa-jiwa merupakan dua kitab ilahi yang kadang-kadang disebut umm al kitab dan kitab yang nyata.” Dan apa yang disebut insan kamil adalah kitab itu sendiri karena didalamnya mencakup alam semesta. Imam Ali mengatakan :

obatmu ada pada dirimu, tetapi engkau tak merasakan

Obatmu ada darimu, tetapi engkau tak melihat

Engkaulah kitab yang nyata itu

Dengan ayat-ayatnya ketersembunyian menampak

Kau kira dirimu benda yang kecil

Padahal dalam dirimu terkandung alam besar”

 

darisinilah kita bisa memaknai “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah dirinya” disinilah letak kebebasan berkehendak karena manusia telah diberi rahasia-rahasia qadha dan qadar di kedalaman dirinya, tinggal bagaimana dia saja memilih dan menyikapinya

Untuk masalah pertanggungjawaban dosa kita sudah sedikit singgung pada pertanyaan nomor 1, sekarang perlu kita tambah lagi. Bisa dikata dosa itu terjadi ketika ketergantungan kepada alam materi, saat adam dan hawa memakan “buah kuldi” disitulah dosa karena “buah kuldi” adalah simbolisasi kepada turunnya manusia ke alam materi pertama yang kita anggap bumi. Saat di bumi yang dibutuhkan adalah “kebebasan” kembali dan upaya “pembebasan”. “kebebasan” pada hakikatnya adalah tidak menggantungkan diri kepada sesuatu, tidak membutuhkan segala sesuatu, tidak terikat kepada segala sesuatu, dia berdiri sendiri. Dan satu-satunya kebebasan adalah Tuhan karena dia tak membutuhkan segala sesuatu, tak bergantung pada sesuatu, dan dia maha berdiri sendiri dengan demikian “kebebasan” manusia sesungguhnya kembali kepada hakikat kebebasan itu sendiri yaitu kembali kepada Allah (inna ilaihi rajiun). Dan “pembebasan” adalah upaya menuju “kebebasan” karena manusia telah terjebak kedalam alam materi dimana di alam tersebut alam ketergantungan maka perlu upaya pembebasan ke alam yang lebih lanjut bahkan sampai kepada hakikatnya, sosok nabi-lah sebagai sosok pembebas manusia menuju kepada kesejatian tempat pulangnya. Pembebasan itu sendiri bermakna loncatan manusia dari suatu alam ke alam selanjutnya yang lebih tinggi. Dan manusia karena telah dibekali kitab yang nyata dalam dirinya maka dia diberi kebebasan untuk memilih alamnya apakah dia hendak pulang kepangkuan-Nya atau dia ingin tetap terjebak dengan dosa (alam materi). Orang yang terjebak inilah yang tidak mengetahui jalan pulangnya setelah menghabiskan waktunya di alam materi dia tidak bisa sampai kepada alam jabarut dan akal sederhana/pertama, ia terjebak di alam bawahnya dan itu merupakan siksaan.

3.    “Jika kita adalah keseluruhan pada yang Satu, apakah kita semua berada pada tingkatan yang sama? Jika ya, berada pada tingkatan mana kita? Apakah langsung menjadi manifestasiNya?”

 

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya segala sesuatu adalah manifestasi dari zat-Nya sehingga segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya, jadi tidak ada sesuatu-pun yang mengalami perubahan sifat dari yang bukan manifestasi menjadi manifetasi-Nya, karena pada hakikatnya segala sesuatu adalah manifetasi-Nya. Kalau kita katakan ada ‘sesuatu’ yang bukan manifestasi-Nya berarti keberAdaan ‘sesuatu’ itu berdiri sendiri dia mengAda sendiri dia punya substansi sendiri dia menjadi illah sendiri padahal Tuhan adalah pencipta segala sesuatu dan substansi dari segala sesuatu, kalau demikian Adanya ‘sesuatu’ yang terlepas dari manifestasi Tuhan maka pengetahuan Tuhan tidak meliputi segala sesuatu dan kuasa Tuhan tidak meliputi segala sesuatu. Oleh karena itu meng-esa-kan Tuhan harus dalam kemestian wujud dan tiada yang terlepas dari-Nya.

Jika kita berbicara dalam tingkatan maka kita berbicara kepada hakikat penciptaan. Pada hal ini kita akan melihat pada tingkatan alam yang bermula pada akal sederhana/pertama yang selanjutnya termanifestasi secara gradual menjadi alam jabarut, malakut, hingga alam mulk (materi).  Tuhan sebagai hakikat tunggal yang mutlak dan sebagai kesempurnaan menuntut supaya terjelma, sebab setiap keindahan pasti terjelma (seperti zat yang memikirkan zat-Nya yang sampai termanifestasi segala sifatnya). Untuk penjelmaan ini diperlukan sebuah manifestasi komprehensif yang mewakili seluruh nama dan sifat-sifat-Nya sehingga dia menganugerahkan keindahan kepada alam semesta. Pada akal sederhana/pertama yang ada hanya zat-Nya tiada keberbilangan disini esa namun bukan seperti angka matematik, termanifes kepada alam jabarut dimana disini letak lauh mahfudz dimana segala hakikat keuniversalan maujud dan selanjutnya kepada alam malakut dimana tercipta idea-idea forma tentang alam bendawi dunia, lalu termanifes menjadi alam materi. Semua ibarat cermin dari zat-Nya seperti yang dikatakan ibn Arabi dimana Tuhan yang esa dihadapan cermin yang banyak, wujud yang real itu adalah Tuhan yang esa itu sedangkan bayangan-bayangan yang banyak pada cermin adalah hanya sekedar khayal karena tidak real dengan sejatinya.

Uniknya adalah penciptaan manusia setelah disempurnakan ciptaannya dengan materi (tanah) maka ditiupkan ruh (ciptaan) dari Allah. Darisinilah manifestasi sempurna dari Allah karena manusia menjadi cermin yang mengkilat yang mewakili seluruh sifat-sifat indah Allah. Darisitulah derajat manusia diatas derajat lainnya. Manusia menjadi ruh alam semesta dan pemelihara khazanah alam semesta. Manusia berada di alam materi tetapi didalam dirinya mencakup alam-alam lain sampai kepada alam keTuhanan. Berdasar pada hadits qudsi : “Tak dapat memuat Aku, bumi dan langit-Ku; yang dapat memuat-Ku, adalah hati hamba-Ku yang mukmin, lembut, dan tenang”

Kesimpulannya manusia berada pada tingkatan penciptaan yang sempurna yaitu sebagai mikrokosmos alam semesta dan merupakan manifestasiNya dari awal hingga akhir

Ini juga sekalian menjawab pertanyaan :

“Juga berkaitan dengan pertanyaan sebelumnya, apakah kita secara langsung menjadi manifestasi atau ketika kita dilahirkan bentuknya hanya potensi yang memerlukan usaha untuk pencapaian menjadi manifestasiNya?Mengapa rega mengatakan kita bukti kesempurnaan sifatNya?Bukankah alam semesta juga merupakan bukti kesempurnaanNya?”

Kita adalah manifestasiNya dari awal, usaha itu dilakukan untuk mewarnai dan menjaga khazanah segala ciptaanNya serta mengingatkan kembali sesamanya akan jalan pulangnya. Alam semesta juga bukti kesempurnaanNya namun dalam penciptaan cerminan paling sempurna dari sifatNya terletak pada manusia.

4.    “Menurut rega, apa ketika kita dilahirkan denagan secara otomatis menjadi khalifah di bumi? Atau makna khalifah adalah ketika kita sudah dapat mengaktualisasikan potensi kita?”

Terdapat banyak tafsir terhadap makna “khalifah” kadang makna khalifah ini menjadi sangat politis dimana dianggap sebagai bentuk kepemimpinan politik manusia, walaupun kita tak bisa pungkiri kebutuhan manusia akan kepemimpinan politik tetapi kadang bertendensi bahwa dalam umat manusia ada yang khalifah ada yang bukan khalifah karena hakikat kepemimpinan yaitu ada yang memimpin dan ada yang dipimpin, yang memimpin adalah khalifah, yang dipimpin bukan khalifah.

Jika kita merujuk kepada tujuan penciptaan manusia Allah berkata :”aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” yang itu ditujukan kepada nabi Adam,lalu yang menjadi pertanyaan adalah apakah status “khalifah” itu berlaku kepada seluruh umat bani Adam atau hanya orang-orang tertentu saja? Jika itu ditujukan untuk seluruh umat bani Adam maka semua manusia derajatnya sama di mata Tuhan yaitu sama-sama mengemban tugas khalifah. berarti dari awal secara otomatis dia menerima status khalifah dimuka bumi karena mandattaris Tuhan sudah ada sebelum manusia itu tercipta.

Apakah ada petunjuk dari Tuhan yang merujuk khalifah kepada manusia-manusia tertentu? Saya belum mendapatkannya, paling ada ketika nabi Ibrahim dijadikan imam bagi seluruh manusia, lalu ada permintaan nabi Ibrahim agar keterununannya dijadikan pemimpin umat manusia juga. Allah menjawab janjiku tidak mengenai orang-orang yang zhalim.  Dengan demikian apakah ada yang khalifah dan ada yang bukan khalifah? Apakah makna khalifah ditunjukan kepada seseorang yang sudah memimpin umat dan menahan kezhaliman?

Jika saya merujuk kepada hadits bukhari : “…setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya…” maka sejak awal setiap orang (seluruh manusia) adalah khalifah. Dan makna khalifah menjadi lebih luas karena bagi setiap orang dan esensinya adalah dalam bentuk pertanggungjawabannya.

Anggaplah setiap orang dari awal khalifah karena tiap manusia wajib bertanggungjawab baik kepada seluruh umat manusia maupun terhadap dirinya. Kalau begitu kita akan membahas tanggungjawab manusia, bukan pertanggungjawaban dosa dan pahala seperti pada bagian sebelumnya tetapi pertanggungjawaban eksistensi manusia di dunia sebagai penerima mandattaris dari Tuhan. Manusia didunia mempunyai ‘potensi’ dan ‘aktualisasi’, potensi adalah apa yang telah di formakan Tuhan yang selanjutnya teraktualisasi sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhan melalui kehendak manusia. Tuhan memberikan potensi khusus manusia sebagai khalifah namun potensi itu bukanlah sebuah status/jabatan tertentu yang digapai atau bukan status yang dapat hilang dan lenyap tapi status yang selalu melekat dalam kemanusiaan dan selalu dinamis, hal ini karena makna khalifah yang tak berdefinisi karena memang makna tanggung jawab bukanlah suatu definisi tertentu tetapi sesuatu yang dinamis. Dengan demikian potensi khalifah sebetulnya adalah suatu proses menjadi yang terus menerus bukan suatu status yang berkesudahan. Itulah mengapa manusia tak bisa ditetapkan kedalam satu bentuk tertentu dia senantiasa ‘menjadi’ dan dari “menjadi” manusia bertanggungjawab atas “menjadi”nya.

Karena ia “menjadi” maka ia menghadap dunianya, dalam dunianya manusia senantiasa harus memilih antara “ini” atau”itu”, ketika memilih maka ter’aktual’ lah manusia dalam tindakannya dan kegiatan memilih itu adalah kegiatan khalifah karena memilih berarti menjadi dan menjadi berarti bertanggungjawab dan setiap yang bertanggungjawab berarti memimpin dan memimpin berarti khalifah. Dengan demikian khalifah itu ada pada level potensi juga ada ada level aktual tak bisa kita memilih salahsatunya karena khalifah bukan suatu status yang digapai, tapi kenyataan hidup kita yang harus memilih dan menjadi. Inilah kalau kita memaknai khalifah dalam tiap eksistensi manusia.


[1] Sayyid Yahya Yastribi , “pezhuhesyi dar nesbat-e Din va erfon” diterjemahkan oleh Muhammad Syamsul Arif, “agama dan irfan : wahdat al wujud dalam ontologi,antropologi, dan bahasa agama”, Sadra Press, Jakarta, 2012. hlm. 141

[2] Mulla Sadra , “Al-Mazhahir al-Illahiyyah fi Asrar al-Ulum al-Kamaliyyah” diterjemahkan oleh Irwan Kurniawan, “Manifestasi-Manifestasi Ilahi Risalah Ketuhanan dan Hari Akhir sebagai Perjalanan Pengetahuan Menuju Kesempurnaan”, Sadra Press, Jakarta, 2011. hlm. 43-44

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: